Purwokerto Kota Satria

Selamat datang ,
Bagi anda yang ingin berlibur cobalah datang ke Purwokerto kota kecil yang ramah ini. meskipun termasuk kota kecil namun Purwokerto memiliki keindahan yang luar biasa. banyak hal menarik yang bisa anda lihat disini.




Wednesday, September 17, 2014



Legenda Raden Kamandaka dikenal tidak hanya di daerah Banyumas, Legenda ini juga dikenal di tanah Sunda. Legenda ini juga biasanya disebut "Legenda Lutung Kasarung.
Raden Kamandaka sebenarnya bukan nama asli, nama sesungguhnya adalah Banyak Cotro, Beliau ini salah satu putra Prabu Dewa Niskala, Raja dari Kerajaan Pajajaran (Kawali).
Dahulu di tanah Jawa Bagian Barat ada kerajaan yang luas dan kuat, kerajaan ini termasuk kerajaan Hindu dan mempunyai pengaruh sampai daerah Jawa Tengah. Nama Kerajaan ini adalah Kerajaan Pajajaran. Raha Pajajaran itu mempunyai 2 orang putra dari Premaisuri Pertama, yang sulung bernama Banyak Cotro, dan adiknya bernama Banyak Ngampar, Namun Putra Mahkota ini sudah ditinggal oleh ibunya semenjak kecil.
Setelah ditinggal Premaisurinya, Raja Pajajaran Menikah lagi dengan Dewi Kumudaningsih yang selanjutnya menpunyai putra bernama Banyak Blabur dengan putri yang bernama Dyah Ayu Ratu Pamengkas. Sewaktu dipersunting menjadi Premaisuri, Dewi Kumudaningsih memberikan persyaratan yang berbunyi "kalau nanti mempunyai anak laki, yang menggantikan menjadi Raja adalah anak laki-lakinya itu".
Sebagai Raja yang bijaksana, Prabu Dewa Niskala menginginkan kalo yang mengantikan Beliau menjadi Raja nanti harus diangkat sebelum Belaiu Wafat dan tahta kerajaan itu tidak menjadi Rebutan putra-putri keturunannya. Prabu Dewa Niskala memang mempunyai banyak keturunan salah satunya bernama Dyah Ayu Ratu Pamengkas atau Ratna Ayu Kirana (Putri bungsi) yang di jodohkan dengan Raden Baribin. Raden Baribin itu kerabat istana Majapahit, Beliau ayah dari Banyak Sosro, Raden Banyak Sosro itu Ayahanda dari Raden Joko Kahiman.
Merasa umurnya sudah lanjut, Raja Pajajaran mempunyai rencana mengangkat Putra Mahkota untuk dijadikan Raja baru nantinya. Raja selanjutnya memanggil putra putra sulungnya. Banyak Cotro dari Premasuri pertama dan Banyak Blabur dari Premaisuri keduanya untuk menghadap, dengan maksud mau mengangkat salah satu putra sulungnya itu untuk menjadi Raja Pajajaran.
Kebetulan kedua putra-putranya itu tidak ada yang mau diangkat menjadi Raja, masing-masing merasa belum siap dan masing-masing meberikan bermacam alasan. Banyak Cotro mengajukan alasan-alasan diantaranya: belum siap memerintah Kerajaan karena belum mempunyai ilmu yang cukup, alasab lainnya katanya menjadi raja itu harus mempunyai Premaisuri terlebih dahulu sebagai pendamping, awalnya beliau akan mencari calon Premaisuri terlebih dahulu yang sesuai. Sesuai dengan maksud yang raut wajahnya juga secantik dengan raut wajah ibundanya. Nanti kalau sudah menikah dengan putri yang seperti ibundanya baru beliau mau diangkat menjadi Raja Pajajaran. Setelah itu Banyak Cotro mohon ijin pergi kepada Ayahandanya untuk mencari calon premaisuri idamanya tersebut.





Banyak Cotro Dadi Raden Kamandaka
Banyak Cotro Meninggalkan Keraton Kerajaan menuju ke ara timur, melewati gunung Tangkuban Perahu, di gunung itu beliau menghadap Pendeta Hindu yang Sakti sedang bertapa di sana. Pendeta itu bernama Ki ajar Winarong, ini Pendeta Sakti mandraguna, mempunyai ilmu Kanuragan yang tinggi dan memahami kalo nantinya suatu saat Banyak Cotro pasti berhasik mempersunting putri yang di idam-idamkannya, asal kan bisa memenhi persayaratan-persyratan yang diantaranya : Banyak Cotro harus bisa melepaskan dan meninggalkan semua pakaian kebesaran dari kerajaan, dan hidup sebagai rakyat biasa. Persyaratan lainnya : Banyak Cotro harus mengganti nama dan menyamar memakai samaran Raden Kamandaka.
Entah bagaiana cerita akhirnya Raden Kamandaka bisa bertemu dengan Patih Kadipaten Pasih Luhir yang bernama Patih Reksonoto. Patih ini agak senang dengan perilaku Raden Kamandaka, kebetulan lagi, beliau tidak mempunyai putra. Akhirnya Raden Kamandaka diangkat sebagai Anak. Patih Reksonoto senang dan bangga, sekarang dirinya sudah mempunyai anak angkat yang gagah perkasa, tampan dan mempunyai perilaku baik. Raden Kamandaka sangat disayang oleh ayah angkatnya
Sementara itu di istana Kadipaten Pasir Luhur, diperintah oleh seorang Adipati yaitu Adipati Kandandoho, Beliau mempunyai putri-putri yang cantik dan sudah menikah kecuali yang putri bungsunya, yang bernama Dewi Ciptoroso. Kebetulan putri bungsu Adipati ini mempunyai paras yang mirip sekali dengan Ibundanya Raden Kamandaka. sebagai Putra Patih Reksonoto, Raden Kamandaka jelas bisa masuk kedalam lingkaran Istana Kadipaten Pasir Luhur juga sudah berulang-ulang melihat Dewi Ciptoroso. Raden Kamandaka sangat yakin kalau Dewi Ciptoroso itu putri yang diidam-idamkannya.




Raden Kamandaka Ketemu Dewi Ciptoroso
Sudah menjadi tradisi di Kadipaten Pasir Luhur, setiap tahun diadakan upacara memancing ikan di kali Logawa. Dalam Upacara ini seluruh keluarga istana Kadipaten, pembesar, pejabat pemerintahan turut serta dalam upacara tersebut. Raden Kamandaka tidak menyia-yiakan kesempatan, beliau juga turut serta. Ini kesempatan bertemu dengan Dewi Ciptoroso. Di pertemuan inilah rasa cinta Dewi Ciptoroso dan Raden Kamandaka bersemi
Hari berganti hari bulan berganti bulan, Dewi Ciptoroso sudah benar-benar jatuh hati kepada Raden Kamandaka. Beliau memohon dengan sangat kepada si Jantung Hatinya kalau setiap malam mendatangi dirinya di taman Keputren Istana Kadipaten. Sebenarnya ini masalah tabu dan sangat tidak diperkenankan, akan tetapi Dewi Ciptoroso sudah di mabuk kepayang. Kebetulah di suatu malam yang sangat tidak beruntung, tidak disengaja pertemuan rahasia ini diketahui oleh prajurit pengawal Keputren. Sang prajurit langsung melaporkan kepada atasannya, akhirnya laporan ini sampai juga ke Adipati Kandandoho, Istana Kadipaten menjadi geger. Adipati murka dan memerintahkan semua prajurit untuk menangkap maling tsb. Penangkapan maling ini gagal dikarenakan Ilmu Kanuragan Raden Kamandaka Lebih tinggi dibandingkan pengawal-pengawal Istana Kadipaten, Raden Kamandaka lolos
Sebelum berlaga melawan para pengawal istana, Raden Kamandaka sudah berusaha memberitahukan kalo beliau bukan pencuri, Beliau ini putra Patih Reksonoto. Kejujuran Raden Kamandaka ini malah menjadi kesalahannya karena tidak pantas beliau di Keputren Istana. Pimpinan prajurit langsung melapor kepada Adipati kalo pencuri itu ternyata Anak dari Patih Kadipaten Pasir Luhur. Patih Reksonoto akhirnya dipanggil Adipati dan diperintahkan untuk menyerahkan putranya untuk menerima hukuman. Patih Reksonoto menuruti namun dengan berat hati. akhirnya Patih mengatur siasat biar putranya bisa lolos dari hukuman. Menggunakan kesaktian ilmu kanuragannya, Raden Kamandaka dapat luput dari pengepungan prajurit.
Raden Kamandaka meloncat ke sungai selanjutnya menyelam mengikuti arus air sungai. Prajurit Kadipaten menyebar menyusuri sungai, menunggu Raden Kamandaka timbul tapi sudah lama sekali, Raden Kamandaka tidak muncul juga. Patih Reksonoto juga berpura-pura ikut mencari. Akhirnya komandan prajurit-prajurit pulang kembali ke Istana Kadipaten dan melapor kepada Adipati kalo Raden KAmandaka sudah tewas di sungai. Adipati merasa lega akan tetapi putrinya Dew Ciptoroso kebalikannya, Beliau merasa sedih dan sangat kehilangan, jantung hatinya sudah tidak ada.





Raden Kamandaka Mengembara

Raden Kamandaka keluar dari Sungai. beliau terus berjalan mengikuti aliran sunga sampai akhirnya bertemu dengan orang yang sedang memancing, yang bernama Rekajaya. Singkat cerita, Rekajaya akhirnya menjadi teman Raden Kamandaka. Beliau juga menetap dan tinggal di desa Panagih, Desanya Rekajaya.Di Desa Panagih, Raden Kamandaka menjadi anak angkatnya tukang adu ayam miskin yang bernama mbok Kektosuro. Di desa itu, Raden Kamandaka menjadi tukang mengadu ayam jago, kebetulan sekali mbok Kektosuro mempunyai ayam jago yang bernama Mercu. Setiap adu ayam jago, Raden Kamandaka pasti menang, akhirnya beliau dikenak sebagai botoh ayam.
Cerita botoh ayam dari desa Penagih ini akhirnya sampai di Istana Kadipaten Pasir Luhur, mendengar kalo botoh itu bernama Kamandaka, Adipati murka, beliau langsung memberikan perintah kepada prajurit untuk menangkap Raden Kamandaka hidup atau mati.
Sewaktu istana sedang ribut-ribut masalah menangkap Raden Kamandaka yang cukup Sakti itu, kebetulan muncul anak muda gagah yang keliatanya memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi, Dia mengaku kalo namanya Silihwarni dan ingin mengabdi di Kadipaten Pasir Luhur. Setelah diuji, Adipati menerima permohonan Silihwarni namun syaratnya, Silihwarni harus menangkap terus membunuh Raden Kamandaka, dan membawa darah serta hatinya Raden Kamandaka ke Istana, Silihwarni menyanggupinya. Silihwarni sebenarnya bukan nama sebenarnya, nama sebenarnya adalah Banyak Ngampar dari Istana(Kerajaan Pajajaran), Banyak Ngampar itu saudara laki-laki (adik laki) yang bernama Banyak Cotro atau Raden Kamandaka.
Silihwarni sebenarnya sedang mengeyamban perintah dari Ayahandanya Prabu Dewa Niskala, perintahnya yaitu mencari kakaknya yang sudah lama tidak ada kabarnya. Silihwarni diberi bekal senjata pusaka Keris Kujang Pamungkas. Belaiu menyamar menjadi rakyat biasa. Di perjalanan beliau mendengar kalau Banyak Cotro kakaknya itu pergi kearah Kadipaten Pasir Luhur.
Setelah menerima perintah Adipati Kandadoho, Silihwarni berangkat membawa prajurit dan anjing pelacak, arahnya adalah ke ke desa Karanglewas. Desa ini memang pusat adu Ayam.





Raden Kamandaka Lawan Silihwarni

Di desa Karanglewas, silihwarni dan Raden Kamandaka bertemu namun masing-masing sudah tidak saling kenal, masing-masing sudah lupa dengan raut wajah saudaranya. Silihwarni menggunakan baju biasa sementara Raden Kamandaka menggunakan baju botoh Ayam.
Adu ayam jago antara Silihwarni dengan Mercu (ayam kepunyaan Raden Kamandaka) sangat seru, namun karena keliatannya banyak orang berwajah dan bertampang asing dan tidak biasa, penonton yang tadinya banyak satu-satu meninggalkan arena, mungkin takut nant ada kejadian yang tidak benar. Raden Kamandaka sendiri tidak menyadari kalo beliau sudah dikepung prajurit Kadipaten. Tiba-tiba kelihatan isyarat perintah serang dari Silihwarni, prajurit-prajurit langsung menyerang Raden Kamandaa dipimpin Silihwarni. Adu ilmu kanuragan antara Silihwarni melawan Raden Kamandaka sebenarnya seru namun karena Raden Kamandaka terkejut, Silihwarni berhasil menancapkan Keris Kujang Pamungkas ke pinggang Raden Kamandaka. Raden Kamandaka tetap melawan, arean pertarungan sampai pindah ke desa lain. Di Desa itu, Raden Kamandaka merasa darahnya sudah banyak keluar, itu menyebabkan badan agak lemas, akhirnya entah dengan menggunakan ilmu apa, Raden Kamandaka berhasi menghilah lolos dari pengeroyokan pasukan Kadipaten. Desa itu diberi nama desa Brobosan.
Silihwarni dengan prajuritnya terus berusaha mencari jejak Raden Kamandaka, Sementara Raden Kamandaka sendiri merasa badanya sudah sangat letih sekali, beliau beristirahat sebentar, tempat sewaktu Raden Kamandaka beristirahat itu diberi nama desa Bancran.
Dituntun dengan anjing pelacak, Silihwarni bersama prajuritnya terus mengejar, malah Raden Kamandaka berhasil menangkap salah satu anjing pelacak Kadipaten, tempat itu sekarang diberi nama Karanganjing.





Raden Kamandaka nang Goa Jatijajar



Raden Kamandaka terus berlari ke arah timur sampai akhirnya sampai di ujung jalan yang buntu, tempat itu diberi nama desa Buntu. Raden Kamandaka terus masuk ke hutan sampai akhirnya menemukan Gua, Beliau terus masuk ke dalam gua itu. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, Raden Kamandaka istirahat di dalam gua.
Sementara itu Silihwarni dan prajuritnya terus mengejar dibantu anjing pelacaknya, sampai akhirnya anjing itu berhenti di depan gua. Silihwarni yakin sekali kalo buruanya pasti ada di dalam gua, sambil berteriak-teriak Silihwarni menangtang Raden Kamandaka. "Hei Kamandaka, Kalo kamu merasa jagoan keluar sini!, mau bertarung berapa jurus saja saya layani, apa perlu saya yang masuk heh!" kata Silihwarni.
Dari mulut gua keluar suara agak menakutkan, "Sih !!! saya ini putra mahkota sejati Pajajaran, tidak bakal takut tidak!". Sewaktu menyebut "sejati Pajajaran" Raden Kamandaka mengeluarkan sisa-sisa tenaga dalamnya, itu menyebabkan suaranya menggema dimana-mana, prajurit-prajurit Kadipaten yang mengawasi dari jauh juga dengan tapi suaranya sudah tidak utuh apalagi semua prajurit itu menutupi telinga karena tidak kuat menahan serangan tenaga dalam yang keluar dair suara itu, suara Raden Kamandaka itu benar-benar membuat telinga tuli. Yang di dengar oleh prajurit-prajurit itu cuma suara gema saja, "jati jajar...jati jajar...jati jajar..." seperti itu, oleh sebab itu gua itu diberi nama gua Jatijajar.
Mendengan Raden Kamandaka menyebut-nyebut nama Kerajaan Pajajaran, Silihwarni terkejut beliau langsung bertanya"Apa anda berasal dari Pajajaran juga?", Raden Kamandaka menjawab "Iya, lah anda siapa?" Silihwarni tidak langsung menjawab, beliau berkata dalam hati "ini pasti kakaku". Selanjutnya Silihwarni meloncat masuk kedalam goa. Di dalam goa Silihwarni membuka rahasia, "Saya banyak Ngampar, apa anda Banyak Cotro?". Akhirnya putra-putra Prabu Dewa Niskala itu bertemu, suasananya sangat mengharukan.
Di luar prajurit-prajurit Kadipaten yang sudah agak tuli tidak mendengar apapa, semua hanya menunggu sampai akhirnya Silihwarni lompat keluar dari goa langsung menyambar salah satu sisa anjing pelacaknya, langsung meloncat lagi kembali ke dalam gua. Agak lama Silihwarni di dalam gua, akhirnya beliau keluar membawa bungkusan yang isinya darah dan hati, sementara anjing pelacaknya tidak dibawa keluar. Darah dan hati itu ialah bukti yang diminta Adipati Pasir Luhur sewaktu memberikan perintah kepada Silihwarni untuk mencari Raden Kamandaka.
Silihwarni langsung memberikan perintah kepada pasukannya untuk kembali ke Kadipaten, sementara prajurit-prajuritnya berkata-kata dalam hati "Silihwarni itu sakti sekali, Kamandaka yang saktinya seperti itu saja bisa dikalahkan, malah hatinya diambil darah diperes, anjing !"

0 komentar:

Post a Comment